Seperti Keris, Bara di Atas Bara



adalah baja yang ditempa di atas bara api yang membara.

air mata kehidupan mencambuknya untuk bangkit, bangkit dan tidak mengenal kata gagal, yang ada hanyalah putus asa, putus asa akan membawa pada kegagalan (hal. 151). Pria berkepribadian hardiness ini sempat putus asa, namun ia selalu berpikir bahwa akan menjadi apa “aku” nanti jika hari ini malas (semasa mudanya). Semasa muda, bukan hanya belajar yang rajin, bahkan Kasiyarno pun harus bekerja banting tulang, sebab ekonomi orang tuanya yang memang kurang, membuatnya semakin sadar, bahwa dirinya harus bekerja ekstra, dua kali lipat lebih banyak dari teman-teman lainnya.

Pengalaman-pengalaman bekerjanya telah menyeretnya untuk menjadi manusia tangguh serupa karang, serupa baja yang ditempa, diberi bisa dari berbagai jenis bisa dari seluruh dunia sehingga menjadikannya berjiwa besar, dan menjadikan tindakannya serupa madu yang selalu menjadi obat bagi orang-orang di sekitarnya.

Sembari kuliah juga mengajar, bahkan sejak SLTA sudah bekerja serabutan. Pernah juga harus bekerja pada penggilingan padi, menjadi pengantar turis, ya tentu saja dengan bahasa inggris, yang menyebabkan dirinya fasih berbahasa inggris, bahkan ia rela menjadi tukang kebun kampus, demi hidup dan belajar bisa sejajar, lalu kemudian menjadi tukang terjemah surat bahasa Belanda-Indonesia. Ini terjadi saat banyak orang Belanda memiliki banyak anak asuh di Indonesia, mereka hanya bisa berkirim surat,

Kasiyarno menerjemahkan dari bahasa Jawa-Belanda atau bahasa belanda- Jawa atau lainnya.

Selain bekerja, Kasiyarno juga berorganisasi di Pelajar Islam Indonesia (PII), dari organisasi inilah, ia semakin menempa diri menjadi besi baja.

Organisasi tanpa orang tua ini telah mengajarinya bahwa organisasi itu tak mempunyai apa-apa pada masa itu, maka orang-orang yang ada di dalamnya harus bekerja ekstra untuk memberikan kehidupan, keaktifan berorganisasi serta juga menjaga nama baiknya. Dari lapar dalam berorganisasi itulah yang kian membuatnya terus sadar bahwa hidup harus diperjuangkan. Walaupun berlapar-lapar ria di masa perjuangan, lantas ia tidak pongah, justru dari pengalaman-pengalaman pahitnya, ia menjadi tahu, bahwa banyak orang di luar sana yang tidak berdaya, ia pun mengupayakan, mengulurkan tangannya agar bisa membantu, memberi kemudahan, memberi kelancaran pada orang-orang yang membutuhkannya.

Bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda pemikirannya. Orang itu justru dijadikan partner kerja, menjadi tandem agar kerjanya semakin progresif, ia akan mendengarkan ide-ide yang datang dari segala pihak, sebab ia merasa masih harus belajar, tidak pongah, meski sudah menduduki jabatan puncak tertinggi, seperti saat menjadi Rektor, semua dirangkul, semua dikenali satu persatu, bahkan mahasiswanya diingatnya sampai sudah bertahun-tahun lamanya, ia pun menyadari bahwa bukan karena dirinya organisasi itu (PII, ataupun kampus UAD) maju, melainkan karena adanya orang-orang yang bersedia untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja, bukan karena dirinya yang memimpin, tapi justru karena ada sinergi, ada kemauan bersama, pimpinan memberikan arahan, ikut bekerja, seluruh jajarannya pun ikut bekerja bersama, bahkan ia merasa dibantu oleh mahasiswanya, sampai tak mau ditinggal oleh mahasiswanya.

 

 

Judul               : JIWA BESAR (biografi kepemimpinan Kasiyarno)

Penulis             : Sule Subaweh & Hadi Suyono

Penerbit           : Halaman Indonesia

Tahun terbit     : Oktober 2019

Tebal               : xx+206 hlm., 14x21 cm

ISBN               :978-602-0848-52-5

Reviewer         : Mat Toyu

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama