Puisi RM Sahli Abdi

 

Puisi RM Sahli Abdi

Jalan Berliku Para Pecinta

 

Alkisah orang-orang yang memilih jalan hidupnya dengan gairah

Meski waktu menyuguhkan biografi derita

Di matanya tertanam mimpi yang tajam

Setajam hatinya yang diasah keindahan

Di langkahnya tertulis sejak para pemenang

Karena hidup berurai airmata adalah lukisan yang lebih nyaring dari terompet perang

 

Lihatlah para pecinta berangkat pagi agar hidup memberi arti

Membuka lembaran hari dengan putihnya obsesi setelah subuh teramat mesra mendandani

Dengan sekepit harapan melengkung di wajahnya

Tubuhnya yang harum menyengat suasana

Seharum melati tegak berdiri begitu dekat jiwanya

Pakaiannya rapi, buku di tangan melengkapi persaksian

Meski orang-orang belum terjaga dari tidurnya

Isterinya tercinta mengembangkan senyum di bibirnya

Menganggukkan kerinduan yang tak bertepi

 

Wajah sang ibu yang lusuh berpeluh

Lantaran semalam bangun menyiapkan makanan agar anaknya dapat mengecat langit dan menumbuhkan bunga-bunga

Sang anak dengan uang saku seadanya untuk membeli premen yang dipajang tanpa harga yang jelas dan minuman yang terkadang mengganggu kesehatannya

Tetap dinikmati sesekali menyisihkan untuk tabungan masa depannya

 

Riwayat para petani yang hasil bercocok tanam terkadang gagal panen

Atau tak dihargai sesuai jerih payahnya

Bahkan sawah ladangnya dijual atau dirampas tanpa riwayat jelas

Toh anak-anak mereka tetap bisa sekolah sampai tuntas

Di dadanya tetap berkobar nyala kesetiaan

Karena hidup harus tetap bertahan

Tak boleh sedikitpun dikubur penyesalan

Tak jarang sawah menjadi rumah kedua bahkan kantor tempat menaruh harapan

Sesekali juga menjadi kuburan

Walau begitu mereka tetap merasakan kehangatan

 

Jalan cinta yang ditempuh kiai dan uztadz di kampung-kampung sunyi

Tak terbesit bayaran karena baginya hidup pribadinya telah selesai

Yang tergambar hanya perjuangan dan pengorbanan yang tak pernah usai

Berbeda dengan dengan ustadz selebritis dan kiai dengan tarif mahal

Penghasilannya diraup dari dakwah digital

Rupiah deretan miliar sampai dollar

Sangat mudah dicapai aduhai sangat membuai

 

Peta orang-orang yang mencari sesuai nasi

Bergadang dengan modal pas-pasan

Menunggu pembeli sampai seharian

Kalaupun tidak laku ia sedekahkan

Berbeda dengan pedagang online

Yang tinggal menunggu orderan bayar cod selesai

Walau paketnya tak sesuai spek yang penting untung

Menjadi kuli panggilan dan buruh sebuah perusahaan

Pegawai harian lepas

Untuk upahnya saja kadang terhutang

Namun di jiwanya terhunjuam kejujuran

Selalu terselip doa agar usahanya barokah

Anak isterinya tercinta menerima dengan senyum mesra

 

Di pertigaan atau perempatan tempat kendaraan berlalu lalang

Tukang parker, pangelar mengatur memandu orang yang datang dan pulang

Sinar matahari begitu setia menempel di wajahnya

Uang 2000 an cukup membangkitkan untuk memasak agar keluarganya bisa makan

Ia tegak berdiri mengusir lelah

Dia tetap ingat untuk tersenyum bahagia

Tak terlintas di benaknya hidup berfoya-foya dengan hasil menipu sesame

 

Para supir taksi yang menunggu penumpang

Seharian memenuhi badan jalan

Sesaat melirik jam sudah hampir Maghrib menjelang

Hanya beli bahan bakar tidak cukup untuk setoran

Namun sholat tetap ia kerjakan

Ternyata malamnya ada carteran

Hasilnya melebihi yang diperkirakan

Dalam perjalanannya ia menangis sesenggukan

Betapa luas dan murahnya rahmat Tuhan

Matanya memicing karena kantuk tertahan

Menyisir jalanan dengan lantunan sholawat nariyahan

 

Banyak cerita seorang muda-mudi yang dikhianati kekasihnya

Mereka tak menyisakan kegalauan

Karena takdir Tuhan indah pada waktnya

Cukup kalimat-kalimat agung untuk mantannya

Agar kelak hidup bahagia bersama pasangan barunya

Sebab dendam bukanlah solusi penyelesaian

Seperti juga pejabat yang menikmati jerih payahnya

Mengabdi dengan tulus untuk bangsa tercinta

Sikap jujur apa adanya

Lebih terhormat dan menenangkan kehidupannya

Sebab ia bekerja untuk Tuhannya bukan kepada atasannya

Jalan-jalan orang-orang yang diguyur madu cinta

Kisah orang-orang yang bergelimpang cahaya

Setiap detak jantungnya terdengar melodi surge

 

Jum’at, 03 September 2021

*RM Sahli Abdi. puisi ini dipetik dari buku SEMESTA EMBUN (Pustaka An-Najmah, Pusat Kajian Ahlussunnah Wal-Jamaah) 2021. hal 65.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama