Muncratan Darah Sapi Kematian

foto diambil dari pixabay


SAPI semestinya sudah disembelih. tapi kandang itu tak ada sapi seekorpun. Sedang mayat terus mengering di lantai langgar, istri mayat itu selalu saja mendesak untuk segera dimandikan, saudara mayat sibuk mengatur halaman yang disediakan untuk pentakziah yang mulai berdatangan, di halaman rumah mayat itu telah dipasang terpal yang cukup menaungi halaman dan juga lincak-lincak secukupnya. Sedang di belakang rumah mayat dapurnya pun telah diperlebar. Tungku-tungku besar dipersiapkan. Beberapa lelaki membelah kayu, menimba air dan mencari hutangan beras pada toko terdekat. Sedang anak mayat itu yang perempuan dianggap tak mampu untuk mengurusi kematian.

“Mana Suamimu?”

“Di belakang!”

“Panggil cepat!” asap rokok mengepul dari bibir hitam lelaki bersurban merah. tak lama. Perempuan itu datang dengan suaminya.

“Kamu pulang, datangi Sudarna. Ngambil sapi yang seharga 4 ato 3,5 (juta) saja. Yang gemuk. Cepat ya…” suaranya melemas di akhir kalimatnya. Lelaki itu bergegas berangkat. Meluruskan songkok hitam dan menekannya. Senja menutup diri. Malam merangkak dalam balutan gelap. Lelaki itu melihat beberapa orang sedang menggali tanah untuk dijadikan kuburan. Lelaki itu pamit untuk lewat.

Di rumah mayat, orang-orang semakin sibuk untuk menyiapkan pemandian mayat. 

“Mar… ayuk kita mandikan bapakmu, nak?”

“Ya sebentar Ibu.”

“Aku sudah tiga kali mengajakmu, mar…! tak ada yang mau memandikannya,,, buh ella! Nak poto apa? Haji juga sibuk ngurusi ikan, mayatnya tidak diperhatikan.” Gerutu istri mayat sendirian. Orang-orang semakin sibuk di dapur, memasak segala yang semestinya dimasak. 

Orang-orang yang turut berduka datang, bagai kerumunan semut yang sedang mendatangi aroma sedap yang harus digotong dan dilahap. Malam terasa meriang, sedang sapi tak kunjung datang. Lelaki bersurban merah itu mondar-mandir di halaman. Menanyakan orang yang punya handphone dan yang punya nomor hp Sudarna, tapi tak satupun yang punya nomor handphone Sudarna, juga tak ada pulsanya.

“Lama sekali… buh!”

Mayat masih dijaga. Tak ada tangan yang menyentuhnya. Istri mayat itu semakin bingung. Ingin rasanya keponakan yang lain, tapi juga sibuk menimba air dan membelah kayu. Setiap panggilan terbentur kapak, ember, dan kesibukan-kesibukan yang terus memburu di dapur itu. 

Pada saat memandikan mayat, Mahri datang dengan sapinya. “Ini sapinya!” ucapnya sesampai di halaman. Keringat yang bercucuran dari dahinya meleleh hingga basah tubuhnya. Ada banyak mata yang melihat pada sapi itu. Semua mata memanah bentuk sapi. Daging-daging sapi tampak rontok. Yang terlihat hanyalah tulang kerangka sapi yang terbalut kulit.

“Ini berapa kata Sudarna?” Tanya lelaki bersurban merah itu. Ia menggelengkan kepala sebelum jawaban didapat dari Mahri.
“Ini tiga juta dua ratus lima puluh. Jika tidak cocok, pasti harus dikembalikan.” Jawabnya lirih. Nafasnya masih tersisa.

“Aduh. Ko kurus sekali itu.” Ucap seorang yang melihatnya.

“Apanya yang mau dimakan jika sekurus itu?” ucap yang lain, sepupu dari istrinya.

“Itu tulang semua.” Ada yang masih nyeletuk dari halaman sambil menaruh pantatnya pada lincak yang tertata. 

“Saya tadi nanya pada tetangga di rumah, berapa harga sapi sekarang. Jawabnya tiga juta seratus dan lumayan dari ini.” Ucap lelaki bersurban merah. Mahri hanya menganggukkan kepalanya dengan menarik nafas dalam-dalam. Tidak dapat berbuat apa. Bibirnya hanya sempat terbuka namun tidak sempat bicara. Ada suara lain yang menggagalkan. Malam semakin larut. Sapipun belum dipotong. 

“Sapi ini mesti…?” Tanya Mahri, lelaki jangkung itu yang jarang sekali melepas kopiah hitamnya.

“Dikembalikan saja. Soalnya terlalu kurus. Dan kemahalan.” Lelaki bersurban merah  menyuruhnya. Malam sangat gersang. Mahri merasa terpanggang oleh gerah malam.

“Saya mau balik ke rumah. Mau memperjelas sapi tetangga. Tampaknya murah.” Orang-orang hanya menanggapi dengan anggukan sekali. Lelaki bersurban merah bergegas dengan senternya.

Dengan sabar Mahri mengembalikan sapi yang tidak diterimanya oleh semua kalangan. Lelaki itu berjalan kaki menerabas malam. Tak menghiraukan batu-batu cadas yang mengancam dan siap menitip luka di kaki Mahri. Rembulan belum waktunya terbit. Hanya gemerlap bebintang yang membuat orang menyatakan bahwa langit masih ada. Sekiranya tidak ada bintang, lalu apa yang akan dijadikan penanda atas langit yang kelam. Pada saat Mahri dalam perjalanan pengembalian sapi, mayat telah dikafani dan siap dishalati bersama, namun masih menuggu Haji bersurban merah. Tengah malam lelaki bersurban merah tiba dengan menuntun sapi. Istri mayat dan keluarga dekat memang belum tidur dan mayat memang tertunda pemakamannya. Dan Mahri pun belum datang dari mengembalikan sapi. Malam itu semua orang pulang dengan rasa kesal sebab pemakaman mayat yang ditunggu ternyata dibatalkan.

Pagi yang nanar datang dengan tak tenang. Haji Bersurban merah resah sebab sapi baru saja disembelih, bagaimana kalau sapi itu tak layak dihidangkan. Jika dalam memasaknya kurang lama, akan membuat daging itu keras dan susah untuk dikunyah. Orang-orang yang hendak menyalatkan berdatang, tapi tak sebanyak tadi malam. Tak seperti semut yang berbondong-bondong dan berebutan untuk mengambil makanan lezat. Hingga waktu yang telah ditentukan, orang-orang lebih sedikit dari yang semalam. Sehabis dishalatkan, mayat langsung diantar ke pemakaman umum. Orang-orang yang menyalatkan rebutan untuk mengusungnya, namun tak begitu banyak. Mahri belum terlihat batang hidungnya.

“Tolong jangan ke kuburan semua!” Pinta lelaki bersurban Merah. “Soalnya daharan sudah disajikan. Kepada yang masih remaja-remaja, tolong bantu-bantu membawa daharan dari dapur.” Pinta lelaki berkumis tipis itu. “Tolong jangan ke kuburan semua, silahkan daharannya!” tambahnya pada para tamu yang berjalan menuju makam umum di atas Garincang. Ada yang berbalik, ada pula yang melanjutkan. Barangkali hanya orang-orang yang mempunyai otot yang dapat dipertaruhkan dalam menaiki Garincang. Yang tua-tua saja yang tidak berangkat ke pemakaman. 

Mahri belum datang. Malam sangat larut. Istrinya gelisah. Malam ini Ia tidak segampang malam-malam biasa untuk memejamkan matanya. Bukan hanya bantal guling yang tidak bergerak yang menggantinya. Harapan yang tidak diinginkan seperti membayang dalam benaknya.

Hingga hari ketiga kematian  Mahri belum juga datang. Orang-orang pada bertanya. Apa sesungguhnya terjadi? Kenapa Mahri tidak langsung pada malam itu? Bahkan sampai hari ketiga belum juga datang. Tidak ada gosip-gosip yang memasak kepanasan nafsu. Orang-orang hanya bertanya. Menanyakan. Istrinya Mahri seperti tidak berselera dalam menikmati makanan yang telah lengkap dengan berbagai lauk-pauk yang ada. Kepergian suaminya telah membuat selera makannya menurun. Iapun bertanya kenapa Mas Mahri belum juga datang, apa yang terjadi. Kenapa hanya karena sapinya disuruh dikembalikan, suamiku tidak kembali lagi.

Yogyakarta, 2014

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama