Isoman: Ikhtiar Umat Manusia

Isoman: Ikhtiar Umat Manusia



Kalian tentu sangat paham dan mengetahui bahwa sekarang adalah pandemic. Sebuah penyakit menular yang tidak hanya terjadi di Indonesia, seluruh dunia terdampak wabah, ini terjadi sejak akhir 2019 yang kemudian ditetapkan dengan nama Cov.id-19. Iya, kemungkinan besar dari sekarang akan ada ID baru untuk kita ke masa depan. Apa itu ID, bisa jadi adalah identitas. Coba kalian main-main dengan percobaan kalimat, seperti jamu.ID atau apa.id, coba saja semua kalimat. Seru-seru. Makanya saya menulisnya dengan COV.ID 2019. coba saja, akan menemukan hal-hal menarik, sudah saatnya kali berselancar jauh menemui apapun dengan smartphonenya. Saya tidak mau membahas lebih panjang. Karena saya tidak tahu. Hahaha. Semoga kalian semua sehat-sehat saja. 

Dalam keadaan dunia yang tidak menentu seperti ini, pagebluk kata rang-orang. Apalagi juga dalam keadaan PPKM Darurat, dimana banyak terjadi penutupan warung secara paksa, apakah kalian perlu bukti bahwa ini sangat banyak buktinya, serta banyak persoalan-persoalan lain yang cukup mengerikan, membuat orang, masyarakat tidak mampu secara lebih khusus, yang berusaha secara mandiri, karena negara belum bisa memback-up secara keseluruhan, namun pada saat bersamaan, mereka-mereka yang berusaha secara mandiri harus berhadapan dengan pihak keamanan negara, karena harus membubarkan, harus menutup, harus menutup paksa usaha mereka yang menyebabkan kerumunan. Negara ini memang sedang tidak baik-baik saja. Belum lagi media massa yang tidak berpihak terhadap rakyat. Ahhh syungguh terlalu.

Bersamaan dengan pagebluk pandemic yang sangat ganas ini, kita menyaksikan begitu banyak korban berjatuhan, awalnya kita bisa menyaksikan bahwa banyak sekali yang meninggal karena cov.id 19 ini, lalu kemudian yang tidak bisa diselamatkan adalah para dokter, perawat (nakes secara keseluruhan) banyak yang bertumbangan, menjadi korban. Lalu akhir-akhir ini menyusul ulama, meskipun kita juga melihat korban sudah tidak bisa dihitung karena saking banyaknya. 

Negara semakin tidak berdaya, sebenarnya saya tidak ingin mengkritik negara, mengeluarkan celotehan, uneg-uneg dan kemudian membuat keributan. Saya menulis ini lantara karena sudah tidak berdaya melihat kenyataan, bahwa kita sehar-hari sudah penuh dengan kalimat innalillahi wa innailaihi rojiun Karena sakingnya banyaknya kematian.

Apakah kita tidak mungkin menemukan obatnya? Bicara obat tentu ini bicara bagaimana kita mendiagnosa penyakit tersebut. Yang perlu dijelaskan secara lebih detail adalah bagaimana Cov.d 19 itu menyerang manusia. Lalu dari situlah seharusnya pemerintah mengumpulkan semua ilmuan kedokteran, para resi, para tabib. Sebab bangsa yang besar, tanyalah pada orang-orang yang mungkin masih bisa menjelaskan penyakit ini dalam versi sejarah, bagaimana penanganan kematian hitam yang terjadi satu abad yang lalu. Ini mungkin akan terkesan lucu, dan layak ditertawakan, tapi pemerintah tidak perlu merasa risih, apalagi sampai malu untuk mengumpulkan tabib, resi ataupun dukun bahwa ada obat-obatan tradisional yang barangkali bisa digunakan untuk membasmi sesak nafas macam cov.id 19. 

Begitu pula para dokter, tanyalah orang-orang yang suka membaca sejarah, bahwa tidak semua orang juga bisa ditangani dengan proses medis. Saya kira dalam hal ini kita harus bersatu untuk mengusir covid ini.

Padahal niat awal saya menulis ini adalah untuk menulis bagaimana saya akhir-akhir ini menikmati daun yang tercantum dalam gambar di atas itu. saya tidak tahu apa bahasa Indonesia dari daun memba itu. daun itu pahit banget jika dimakan, rata-rata cara menikmatinya dengan cara ditubruk, dihaluskan, lalu diperas diambil airnya kemudian diminum. Namun saya justru menikmati berdasarkan kemauan saya pribadi yaitu dengan cara menggulung setiap lembar daunnya lalu memasukkan ke ujung mulut, dekat tenggorokan, kemudian saya telan, minimal setiap pagi saya menelan tiga lembar, itu pun daun yang paling kecil, yang masih kemerahan alias tunas mudanya (popos/ompos). Intinya saya meminum itu setiap pagi minimal tiga lembar daun memba. 

Di tengah pandemic, pancaroba yang tidak menentu, serta dengan kondisi apellion, yang menyebabkan matahari berada di posisi titik terjauh dari bumi. Dampak dari Apellion apa apelliot ya ini adalah masyarakat bumi kedinginan yang selama 24 jam. Mungkin di eropa bisa jadi musim salju. Di Indonesia memang tidak dingin 24 jam. Yang sangat dingin pada sore hari sampai pagi hari. Duchhh sangat dingin sekali. 

Nahhh,,, berkat minum lembaran daun memba itulah, kedinginan yang melanda saya agak sedikit terbantu. Biasanya saya tidak berdaya berhadapan dengan dingin apalagi dengan sikap dingin. Auuuhhh ah langsung babak belur rasanya dengan sikap dingin yang cukup absolut itu.

Selain itu tentu saja harus makan nasi secara normal. Tidak bisa dipungkiri jika tanpa kekenyangan selama 24 jam ya tentu sama saja dengan tidak berbuat apa-apa. Namun kalian harus tetap tenang. Negara ini memang harus segera dikendalikan. Tapi proses pengendaliannya ya bukan dengan cara kekerasan seperti yang kita lihat setiap hari. Ayolah negaraku!!! Saatnya kita bicara banyak di hadapan negara-negara di dunia! Selamat pagi untuk kita semua!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama