D. Zawawi Imron

 

Seorang yang hanya menyantri selama kurang lebih selama 18 Bulan di Lambicabbi, Gapura (timur) Sumenep, Madura. lahir di Batang-Batang Sumenep, pendidikan utamanya adalah SR yaitu Sekolah Rakyat pada saat Indonesia belum merdeka.

Penulis Celurit Emas merupakan penyair Madura yang sangat produktif hingga saat ini. Pada tahun 2010, judul antologi puisinya yang berjudul “Kelenjar Laut” mendapat hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) dari kerajaan Malaysia dan pada tahun 2011 buku tersebut juga mendapatkan penghargaan dari Raja Thailand yang bertajuk “The South East Asia Write Award”. Selain beraktifitas sebagai penyair, D. Zawawi Imron juga melukis dan berdakwah. Beliau istiqomah mengadakan dzikir bersama di pesarean gurang-garing Lombang.

Selain terkenal dengan Celurit Emas, beliau juga terkenal dengan “Madura Akulah Darahmu.”

***


D. Zawawi Imron, lahir di Desa Batang-batang Daya, ujung timur Pulau Madura. Ia hanya mendapat pendidikan Sekolah Rakyat dan kemudian belajar di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep, selama 18 bulan. 


Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Lalang sempat mengilhami sutradara Garin Nugroho membuat film “Bulan Tertusuk Ilalang”. Kumpulan sajaknya, Nenekmoyangku Airmata, terpilih sebagai Buku Puisi Terbaik dengan mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1985. Kemudian, kumpulan sajak Celurit Emas terpilih menjadi Buku Puisi Terbaik di Pusat Bahasa, 1990. Pada tahun 1995, Zawawi memenangkan juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-50. Pada tahun 2010, kumpulan sajaknya Kelenjar Laut mendapat Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) dari Kerajaan Malaysia. Buku tersebut juga mendapat The South East Asia Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Pada Kongres Kebudayaan tahun 2018 ia mendapat Penghargaan Kebudayaan dari Presiden RI. Dua tahun berselang, giliran Direktur Utama RRI yang menganugerahinya The Achievement Award. 


Kumpulan sajaknya yang lain di antaranya adalah Derap-derap Tasbih, Lautmu tak Habis Gelombang, Bantalku Ombak Selimutku Angin, Madura Akulah Darahmu, Kujilat Manis Empedu, Berlayar di Pamor Badik, dan Mata Badik Mata Puisi.


Judul: Mengekalkan puisi pada kopi 

Penulis: Zawawi Imran 

Tebal: 60 Halaman 

ISBN: 978-623-221-799-7

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama