Belajar Menulis Suasana Dalam Cerita Pendek


Belajar Menulis Suasana Dalam Cerita Pendek

Aku sendiri sebenarnya sangat bingung dengan apa yang disebut suasana dalam cerita, toh aku jarang bisa, sangat sulit menikmati suasana dalam kehidupan nyaman sehari-hari. Okay. Baiklah, sebaiknya kita lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia secara offline saja ya karena di tempatku, sinyal tidak 4G, malah hanya sebatas E1. Berdasarkan KBBI edisi kelima adalah 1. n (n ini berarti nomina, yaitu kelas kata yang dalam bahasa Indonesia ditandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak, misalnya rumah adalah nomina karena tidak mungkin dikatakan tidak rumah, biasanya dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa) hawa; udara: (meliputi bumi). 2. n. keadaan sekitar sesuatu atau dalam lingkungan sesuatu: (pedusunan berlainan dengan – perkotaan). 3. n. keadaan suatu peristiwa: (politik luar negeri disesuaikan dengan – internasional masa kini. 4. n. salah satu unsur tekstur pertunjukan teater yang berkaitan dengan penggabungan unsur spektakel, dialog, dan irama permainan. Yang dicetak besar merupakan pengertian suasana yang tercantum dalam KBBI sedangkan yang tertulis biasa, merupakan contohnya. Ada berapa kata kunci yang menjelaskan pengertian suasana seperti hawa, udara. Kita pereteli makna hawa, kita cukup kembali saja pada KBBI, ini sederhananya dulu. Bahwa hawa adalah “keadaan” udara pada suatu tempat. Sedangkan arti kata suasana adalah keadaan sekitar seperti yang termaktub pada arti nomer dua; keadaan sekitar dalam lingkungan tertentu. Jika pada arti ketiga dan keempat, seperti akan lebih sulit untuk memahami. Sejauh ini sudah dipahami apa itu “suasana.” Baiklah. Kita beranjak pada suasana dalam cerita pendek, sebenarnya bukan sekedar dalam cerita pendek, tapi dalam prosa atau dalam tulisan secara keseluruhan.

Ya, karena sekarang kita mau belajar menulis cerpen kita, ya membahas dalam cerpen. Untuk yang belum mengetahui apa itu cerpen. Silahkan belajar atau membaca pada tulisan lain (hyperlink-saja). Sederhananya cerpen adalah cerita pendek yang sekarang rata-rata berkisar kurang lebih 1500 kata. Ya tulisan-tulisan santai sebenarnya. Baiklah. Suasana dalam cerpen. Suasana dalam cerpen tidak jauh berbeda dengan suasana dalam kehidupan umat manusia. Karena cerita merupakan animasi, merupakan mimikri dari kehidupan sosial umat manusia. Suasana merupakan hal-hal biasanya mempengaruhi tindakan aktor. Hal-hal yang paling dekat dengan kehidupannya. Semisal

“Gi’ laggu. Arena ngontap dhari temor. Gantong cowet ban addhas saleng sawot. Akaton arebbu’an. Mano’ teng-guntengan se pon kare guntengnga malecco’ ebabana bungkana sokon, nyaleyot ka budiyanna kandhangnga sapena (“Araja” dhalem buku Kerrong ka Omba’. Penerbit Sulur. 2019). Itu contoh dalam cerpen bahasa Madura yang saya ambil dari buku Kerrong ka Omba’, tulisan Mat Toyu. Kita ambil contoh lain dari bukunya Umar Kayam dalam buku Kunang-kunang di Manhattam, dengan judul cerpen “Musim Gugur Kembali di Connecticut.” Grafiti 2012.

Pada waktu pagi mau datang menguak, tetapi langit masih gelap, cahaya bulan yang tinggal separo itu mulai menyelinap masuk lewat jendela kamarnya. Cahayanya yang lembut mulai ikut menyapu mukanya yang sedang pulas ketiduran. Titik-titik keringat membayang pada dahinya, sedangkan badannya setengah terkulai menggapai pada kursi di belakang meja tulis. Sebuah mesin tik di meja, secangkir kopi yang setengah kosong, sebuah teko, puntung rokok bercecerang di lantai, dan di atas mejanya berserakan kertas penuh dengan ketikan dan coretan-coretan. Kokok seekor ayam jantan di pagar tetangga tiba-tiba saja menyentakkan dia bangun dari tidurnya… (Musim Gugur Kembali di Connecticut).

Dalam gambaran suasana yang tertuang dalam teks bahasa Madura tersebut ada suasana alam, seperti suara kicau burung yang sahut-menyahut. Serta juga adanya penggambaran bahwa matahari terbit dari temur. Suasana yang ringkas dan kurang detail. Ya itu merupakan potongan suasana. Mungkin suasana yang tergambar dalam cerpen bahasa Madura tersebut cukup panjang. Tapi saya hanya mengambil sepotong saja. Jika ingin menikmati panorama alam, kicau burung, ya selain mendatangi alam sekitar, beli burung, ya juga mesti membaca buku Kerrong ka Omba’, yang menurut kabar sempat menerima Hadiah Sastra Rancage pada tahun 2020.

Tentu saja dalam cerpen Musim Gugur Kembali di Connecticut penggambaran suasananya lebih detail. Ini kebetulan sama-sama berangkat dari suasana pagi. Dalam cerpen Umar Kayam, dimulai dari terbitnya fajar, matahari belum terbit, cahaya rembulan yang lembut. Kita dapat menyaksikan dengan jelas. Ada orang yang tertidur pulas tersapu sinar rembulan keperakan. Anda bisa membayangkan sendiri seorang tertidur pulas tersapu sinar rembulan. Kemudian Umar menjelaskan dengan lebih detail. Mulai dari keringat, mesin tik, secangkir kopi yang setengah kosong. Jika anda ingin menulis, secangkir kopi yang tersisa ampasnya, dibiarkan menganga, tak tertutup, misalnya. Cangkir itu beralaskan kayu segi empat yang telentang di atas meja. Mari kita belajar pada Kayam, dia melanjutkan dengan penggambaran yang lebih detail. Seperti puntung rokok yang berceceran. Kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Masih ada teko, mungkin anda nanti bisa menambahkan asbak, sisa puntung rokok yang malang-melintang dalam asbak. Bisa juga anda kreasikan sendiri. Misal, kulit pisang kukus, tersisa satu pisang yang belum dimakan dan lain sebagainya. Sesuai keinginan dan kemauan. Eksplorasi. Yang penting tidak sampai berlebihan dan nyaris meninggalkan hal utama. Suasana itu dalam rangka memperkuat cerpen.

Setelah membaca ulasan singkat, anda bisa langsung menulis dengan gercep, agar tulisan anda semakin kaffah. Hehe. Tentu saja tulisan anda ingin dibaca dan dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan. Tanpa tendensi kelas sosial manapun, serta tidak terbatas oleh usia berapapun. Itu merupakan cita-cita mulia yang mungkin dikehendaki oleh semua penulis. Mungkin mereka yang sudah tak memikirkan eksistensi tak lagi membutuhkan itu semua. Termasuk tak lagi membutuhkan hadiah-hadiah. Uang. Dan lain sebagainya. Yang penting masih bisa menikmati suasana hidup dengan cara bernafas. Haha. Ya, seorang penulis memang dipaksa selalu peka terhadap segala keadaan, kondisi apapun yang berada di sekitarnya. Harus mampu mencium aroma yang menguar di udara dan mencari sumbernya. Serta anda akan menemukan penyebab aroma itu ada. Inilah yang akan membuat anda bisa menuliskan suasana. Dalam menulis, semua indra harus digunakan sebaiknya-baiknya. Kepekaan dari semua indra harus sensitif. Hal ini akan mempengaruhi bentuk-bentuk tulisan anda. Anda bisa menikmati minum air putih dari berbagai tempat dan merasakannya. Tanpa anda rasakan, anda takkan mempunyai pengalaman terhadap segala suasana yang bisa melingkupi anda, orang-orang di sekitar anda dan sebagainya.

Kira-kira apa pentingnya tulisan ini, jika anda setelah membaca ini, anda tidak mencoba menghadirkan suasana dalam cerpen-cerpen yang anda tulis. Segeralah ambil alat tulis anda. Lalu nikmatilah kenikmatan menulis. Selamat menulis dan mencoba menghadirkan fragmen-fragmen baru dalam setiap babak kehidupan yang lebih mengejutkan dan trengginas.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama