Amal, Masjid dan Arsitektur Peradaban Islam

 

YA, IDE ini sudah lama mengeram dalam kepala. Selalu tertunda-tunda tanpa penyebab yang pasti. Pastinya lebih dikarenakan membuang waktu secara sia-sia belaka, seperti main hp berlama-lama scroll timeline, kenikmatan dalam timeline, sampai lupa pada hal yang harus dilakukan, ya seperti waktu menulis yang harus dikorbankan, padahal kalau yang namanya tidur itu seperti tidak mau ditunda. Memang tidak harus ditunda dan wajib dilaksanakan secara lebih seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ide ini muncul karena melihat masjid-masjid yang megah di berbagai tempat, serta banyaknya masjid yang kemudian hendak bersolek, menghadirkan wajah masjid yang lebih futuristik, dan tidak lagi mementingkan tiga undakan atap yang meniru gaya bangunan lama. Nah kira-kira darimana mereka mendapatkan biaya besar untuk me(renov)mbuat masjid megah seperti itu. kita ulas perkata mulai dari Amal, Masjid dan Arsitektur Peradaban Islam.

Pertama Amal

Apa itu amal? Dalam (aplikasi) Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa amal 1. merupakan perbuatan baik atau buruk. 2. Perbuatan baik yang mendatangkan pahala (menurut ajaran agama islam. 3. Yang dilakukan dengan tujuan untuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia (memberi derma, mengumpulkan dana untuk membantu korban bencana alam, penyandang cacat, orang jompo, anak yatim piatu dan sebagainya).

Sedangkan jika mengacu kepada bahasa Arab, Amal bermakna mengamalkan, berbuat atau bekerja (bertindak), kata ini juga sering dipertukarkan dengan sedekah. Amal merupakan perwujudan dari tindakan yang menjadi landasan dasar jiwa. Dengan beramal, berbuat sesuatu, manusia memiliki landasan dan harapan yang terpusat dalam jiwa. Dengan pengertian seperti ini dapat disimpulkan bahwa amal merupakan aktifitas manusia yang dipergunakan untuk dirinya, untuk orang lain atau pun untuk sesamanya.

Dalam perjalanannya, sebagaimana disebutkan di atas, Amal sering dipertukarkan atau diasosiasikan dengan sedekah, maka banyaklah orang yang memohon amal dengan cara berdiri di jalan raya, jalan kabupaten atau bahkan jalan pedesaan bahkan hingga dengan cara berjalan kaki. Ada beragam amal yang diharapkan bisa berupa uang, makanan, baju dan lain sebagainya. Ada yang digunakan untuk dirinya sendiri seperti pengemis, berjalan keliling kampung untuk meminta-minta dan lain sebagainya. Ada pula yang membuat poster, silahkan kirim sedekah/amal terbaik anda melalui nomer rekening, ada pula yang berdiri di lampu-lampu merah untuk memohon amal yang akan dipergunakan untuk korban bencana alam, korban perang, ada pula yang mengatasnamakan untuk korban di Palestina dengan cara membubuhkan bendera Palestina di kardusnya.

Dan dalam hal ini adalah amal yang digunakan untuk pembangunan masjid yang biasanya berdiri di pinggir jalan, memegang gayung (canting), dan satu orang memegang mix (pengeras suara) untuk memohon kepada seluruh yang melintas, jalan kaki, pengendara motor, mobil, penumpang (penumpang gelap) dan lain sebagainya untuk memberikan amal terbaiknya.

Amal. Amal. Pak sopir. Pelan. Pelan. Pelan-pelan pak sopir. Pola badha. Sa da’-rida’. Suara dari pengeras suara dan diselingi dengan shalawatan, ucapan terima kasih. Mator kasoon dan mator sakalangkon.

Kedua Masjid

Apa itu masjid? Jika mengacu kepada bahasa arab. Masjid merupakan kalimat Isim Makan yaitu kata benda yang merujuk pada tempat, Isim adalah ismun yang berarti nama benda, sedangkan makan adalah tempat. Isim Makan dan Isim Zaman ini memiliki kalimat yang sama. Nah kata Masjid ini merupakan Isim Makan, yaitu nama tempat. Tempat apa itu masjid. Jika mengacu pada isim mufradnya, yaitu sajada yang berarti sujud, maka masjid adalah tempat bersujud. Ya pada dasarnya masjid memang sebatas tempat bersujud, yang merupakan sebidang tanah. Jika kemudian akan digunakan untuk bersujud bersama, minimal dua orang makan bidang tanah tersebut haruslah diperlebar, jika untuk shalat jum’at, maka diperlukan bidang tanah yang semakin lebar.

Masjid pertama kali didirikan di Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke 11 Masehi. Sedangkan di Indonesia masjid tertua adalah Masjid Agung Demak, disebut sebagai masjid tertua di Indonesia dan Pulau Jawa. Ciri khas masjid di Indonesia pada awalnya memiliki ciri khas yaitu atapnya yang merupakan limas bersusun tiga. Masjid Agung Demak didirikan pada masa Pemerintahan Raden Patah, dan dianggap pusat awal penyebaran Islam.

Pada perkembangannya di Indonesia saat ini, masjid-masjid tidak lagi berbentuk limas bersusun tiga, namun berupa menara dan kubah. Dengan menara, harapannya suara toa, pengeras suara ketika adzan, ceramah, kultum bisa disyi’arkan lebih jauh, bisa didengar secara luas.

Ketiga adalah Arsitektur Peradaban Islam

Arsitektur merupakan ilmu seni merancang serta konstruksi bangunan, bisa gedung bertingkat ataupun masjid. Sedangkan peradaban adalah hal-hal yang bersifat kebudayaan suatu bangsa, mulai dari sopan santun, seni rupa dan lain sebagainya. Ketika berbicara mengenai arsitektur peradaban maka tidak dapat dipungkiri akan mengarah pada hasil bangunan yang bercorak khas, seperti arsitektur peninggalan romawi kuno, yunani dan lain sebagainya yang kesemuanya merupakan hasil pencapaian suatu kebudayaan dari bangsa itu. hal itu menjadi penanda kemajuan bangsanya.

Nah. Akhir-akhir ini Islam khususnya di Madura ingin memperlihatkan wajah islam yang lebih modern, futuristik dengan cara membangun masjid secara lebih elegan, penuh dengan ornament, ukiran dan juga juga lukisan. Hal ini tidak lain adalah untuk mewujudkan citra islam yang megah. Bahwa tempat ibadah orang islam juga bisa besar, megah dan penuh dengan beragam arsitektur. Sehingga dengan cara seperti ini peradaban islam akan bercahaya. Yang mana (sebagian) pendanaannya merupakan hasil swadaya masyarakat dengan cara meminta amal di pinggir jalan.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama